HADIAH UNTUK SANG RAJA


Shalat disebut juga sebagai mi'raj ruhani.Yaitu ketika kita naik menuju Allah SWT. Mi'raj adalah sebuah perjalanan meninggalkan bumi menuju 'arsy Tuhan dan pada akhirnya menuju Allah SWT. Shalat yang diterima itu syaratnya dua. Yang pertama sah dan yang kedua khusyuk. Sah artinya sesuai dengan syariat, itu masalah ragawi, dan khusyuk adalah masalah hati. masalah sah atau tidaknya shalat itu dipelajari di dalam fiqih. Masalah khusyuk dan tidaknya shalat
kita pelajari di dalam tasawuf.

Jika seorang shalat, tetapi shalatnya tidak sah atau tidak mengikuti syari'at, maka hal itu seumpama seorang yang mempersembahkan barang yang cacat kepada rajanya. Dulu, jika seorang ingin mempersembahkan upeti kepada raja. Maka upeti yang paling besar adalah mempersembahkan seorang budak. Kita memberi hadiah seorang budak kpada sang raja. Budak belian yang kita berikan kepada raja, jika perempuan tentu harus yang paling cantik.

Ada orang yang datang memberikan hadiah kepada raja, sebagai tanda kecintaannya kepada raja. hadiahnya adalah seorang budak tetapi budak itu banyak cacatnya, kedua tangannya tidak ada misalnya. Banyak cacat di tubuhnya, atau budak itu penuh penyakit, seperti lepra misalnya. Jika hadiah seperti itu yang kita persembahkan kepada raja, maka pastilah sang raja menolaknya atau bahkan bisa membuatnya marah. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, bayangkan olehmu begaimana raja akan mau menerima persembahanmu yang penuh cacat seperti itu. Itu bahkan bisa menjadi perumpamaan orang yang shalat, tetapi shalatnya tidak mengikuti syariat. Tidak sesuai dengan tuntutan dan sunnah Rasulullah SAW.

Yang kedua, mungkin ada orang yang mempersembahkan shalatnya itu seperti mempersembahkan budaknya yang paling cantik, indah tanpa cacat, tapi tidak bernyawa. seonggok bangkai kita persembahkan kepada raja, tentu raja tidak akan mau menerimanya. Shalat-shalat yang kita lakukan tanpa ruh atau tanpa nyawa itu seumpama bangkai. Astaghfirullah kita mohon ampun kepada Allah, mungkin yang paling sering kita persembahkan ke hadapan Dia adalah bangkai. Kita mengklaimnya sebagai ibadah-ibadah kita. Dan klaim kita itu nanti kita lakukan ketika kita kembali kepada Allah dalam pertemuan yang terpaksa. Akhirnya kita menyesal karena selama ini kita sering memberikan hadiah yang tidak sempurna untuk Sang Raja.Pantas kah???

1 comments:

  MaIDeN

8:55 PM

Hi ammah, selamat belajar ...